Untukmu, Munir!

LBH Surabaya – Tak kurang dari 200 orang menghadiri acara puncak “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan”, Jumat (9/9). Duduk hanya dengan beralaskan tikar, masyarakat dan mahasiswa antusias menyimak berbagai rangkaian acara yang digelar tepat di depan kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya di Jalan Kidal Nomor 6, Kota Surabaya. Berbagai acara yang dimaksud di antaranya adalah pemutaran film, musikalisasi puisi, testimoni, dan orasi.

Masyarakat yang hadir kali ini merupakan kelompok dampingan LBH Surabaya, di antaranya adalah Serikat Pedagang Kali Lima (SPEKAL), Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS), Bina Matraman Putat Jaya Surabaya (BMP), dan Laskar Pembela Bumi Pertiwi (LPBP) Surabaya. Acara kali ini juga dihadiri oleh Mahasiswa Peduli HAM yang berasal dari berbagai universitas di Jawa Timur.

Acara yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB itu juga didukung oleh beberapa organisasi profesi dan masyarakat sipil yang ada di Jawa Timur. Tercatat, ada Ecoton, Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Surabaya, Pusham Universitas Surabaya, Cmars, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Serikat Pengajar Hak Asasi Manusia (Sepaham Indonesia), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, Jaringan Islam Anti-Diskriminasi, Gusdurian, dan Yayasan Kasih Bangsa Surabaya.

Acara kali ini juga dihadiri oleh mantan Direktur LBH Surabaya, Prof. Dr. Muchammad Zaidun, S.H., M.Si. Selain itu, hadir juga alumni LBH Surabaya, Nuzulul, yang saat ini menjadi hakim pada Pengadilan Tinggi Surabaya. “Cak Munir itu semangatnya luar biasa,” kenangnya saat bersama-sama melakukan aktivitas di LBH Surabaya sekitar 26 tahun yang lalu.

Direktur LBH Surabaya, M. Faiq Assiddiqi, S.H., mengatakan, acara malam ini dimaksudkan untuk mengenang aktivis HAM, Munir, yang sangat luar biasa. “Ini adalah acara kita semua. Semoga kita dapat meneladani semangat Cak Munir untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas,” katanya.(*/zal)

Mahasiswa Membaca Munir

LBH Surabaya – Acara “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan” diawali dengan diskusi publik yang diikuti oleh 40 mahasiswa di Jawa Timur, Jumat (9/9). Diskusi yang berlangsung di Aula Kantor LBH Surabaya itu mengambil tema “Mahasiswa Membaca Munir: Refleksi Gerakan Mahasiswa Kekinian”.

Ketua Panitia, Sugianto, S.H., mengatakan, diskusi kali ini merupakan bagian dari rangkaian acara yang akan berakhir pada malam nanti. “Diskusi yang pertama ini kami khususkan pesertanya dari mahasiswa di Jawa Timur,” katanya.

Menurutnya, pelibatan mahasiswa dalam acara itu dipandang sangat penting. “Pergerakan mahasiswa saat ini harus kembali mendekatkan diri pada masyarakat tertindas, seperi halnya yang telah dicontohkan oleh Cak Munir,” ungkap Pengacara Publik LBH Surabaya tersebut.

Panitia mencatat, mahasiswa yang menjadi peserta antara lain dari Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Universitas Hang Tuah Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. “Hadir juga organisasi mahasiswa di Surabaya, seperti HMI, IMM, PMII, GMNI, dan PERMAHI,” tambahnya.

Sebelum memulai diskusi, mahasiswa secara bersama-sama menyaksikan film yang mengkisahkan tentang perjalanan hidup Munir. Hadir sebagai moderator pada acara tersebut adalah Asisten Pengacara Publik LBH Surabaya, Muhammad Busyrol Fuad, S.H., S.H.I.,

Salah satu peserta, Reza, mengungkapkan, mahasiswa sangat terjembatani dengan acara seperti ini. “Diskusi ini juga akan menambah daya juang kita dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat yang tertindas. Kita juga akan mendapatkan gambaran bagaimana semangat Cak Munir dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas,” ungkap mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga tersebut.

Sementara itu, menurut aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DPD Jawa Timur, Alsa, dalam pergerakan mahasiswa saat ini, mengidentifikasi lawan adalah salah satu hal yang sangat penting. “Sistem dan struktur yang kapitalis perlu untuk dilawan,” tuturnya.(*/zal)

Pemerintah Wajib Menuntaskan Kasus Pembunuhan Aktivis HAM, Munir

Surabaya, 09/09/2016. 12 tahun yang lalu, tepatnya 7 September 2004, Indonesia kehilangan salah seorang tokoh terbaiknya yang getol melakukan advokasi terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM. Munir, dibunuh dalam sebuah penerbangan menuju Amsterdam, Belanda. Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan untuk melanjutkan study-nya ke Universitas Utrecht. Ia dibunuh dengan menggunakan racun arsenik yang ditaruh ke makanannya oleh Pollycarpus Budihari Priyanto. Sebelum pembunuhan, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden SBY juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut hingga saat ini belum pernah diterbitkan ke publik.

Hari meninggalnya Munir selalu diperingati oleh Pembela HAM. “Tidak saja untuk mengenang jasa-jasa Cak Munir, tetapi lebih jauh untuk selalu memupuk dan menumbuhkan semangat juang dan nilai-nilai yang dibangun oleh Cak Munir dalam mendorong pemenuhan, perlindungan, dan penghormatan HAM. Sehingga Munir selalu ada dan berlipat ganda”, kata Faiq Assiddiqi, S.H., Direktur LBH Surabaya.

Penuntasan kasus pembunuhan Munir menjadi PR besar bagi Negara. “Kasus Munir adalah Test of our History”, kata SBY kala menjabat sebagai Presiden. Namun hingga akhir masa jabatannya, SBY seakan lupa dengan janjinya  untuk menuntaskan kasus Munir.

Pembunuhan terhadap Munir juga menunjukkan betapa lemahnya peran negara dalam memberikan perlindungan terhadap pembela HAM. “Perlindungan oleh Negara terhadap Pembela HAM belum maksimal atau bahkan tidak ada sama sekali. Negara abai dalam memberikan perlindungan. Kita bisa lihat yang dialami oleh aktivis lingkungan, seperti Salim Kancil. Jika negara responsif, kejadian seperti yang dialami Salim bisa dicegah”, kata Rere, Direktur ED Walhi Jatim.

Selain kekarasan atau ancaman fisik, Pembela HAM juga seringkali dilaporkan ke polisi atau digugat secara perdata di Pengadilan. “Trend yang muncul belakangan, Pembela HAM sering kali berhadapan dengan hukum. Ini yang dinamakan SLAPP (Strategic Lawsuit Againts Public Partisipation). Pembela HAM dikriminalisasi atau digugat secara perdata. Instrumen hukum dijadikan alat untuk membungkam. LBH Surabaya banyak menangani kasus seperti ini, baik yang dialami buruh, petani, aktivis lingkungan, aktivis anti korupsi, dan lain-lain,” tambah Hosnan, S.H., Kepala Bidang Penanganan Kasus LBH Surabaya.

Acara Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan ini awalnya hanya akan dilaksanakan di 12 kota di Indonesia, namun ternyata terus berlipat ganda hingga menjadi lebih dari 23 Kota,” kata Sugianto, S.H., selaku ketua panitia. Untuk di Surabaya sendiri, kegiatan ini diselenggarakan oleh sebanyak 18 organisasi masyarakat sipil dan mahasiswa, diantaranya LBH Surabaya, WALHI, Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), GUSDURIAN, Cmars, Pusham Surabaya, Pusham Ubaya, KC FSPMI Surabaya, PC SPL FSPMI Sidoarjo, Ecoton, Yayasan Kasih Bangsa Surabaya, Serikat Pedagang Kaki Lima (Spekal) Surabaya, Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS), Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM), AJI Surabaya, Bina Mataram Putat Jaya (BMP), Mahasiswa Peduli HAM, dan Mahasiswa Unimas.

Rangkaian acaranya adalah Pemutaran Film Dokumenter tentang cak Munir, diskusi, pameran foto dan poster, orasi, testimoni, musik akustik, serta pembacaan puisi.