LBH Surabaya Peduli RUU Jabatan Hakim

LBH Surabaya – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) tengah melakukan pembahasan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Jabatan Hakim. Berkenaan dengan hal tersebut, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya sebagai jejaring Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) mempunyai kepentingan untuk memberikan kritik dan saran terhadap RUU itu sebagai masukan masyarakat.

Kritik dan saran itu tersampaikan saat LBH Surabaya menggelar diskusi bertema “Pembaruan Dunia Peradilan: Menyongsong RUU Jabatan Hakim”, Kamis (29/9). Diskusi yang bertempat di Aula Kantor LBH Surabaya itu dihadiri oleh Wakil Ketua KYRI, Sukma Violetta, S.H., LL.M. Hadir juga sebagai peserta aktiv dari kalangan pegiat hak asasi manusia (HAM), akademisi, dan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Sukma Violetta, S.H., LL.M., mengutarakan, munculnya RUU Jabatan Hakim merupakan salah satu jawaban untuk menanggulangi masalah yang dihadapi Mahkamah Agung (MA), yakni integritas dan etika, promosi, distribusi hakim, serta kinerja pengadilan. “Fokus dalam RUU Jabatan Hakim adalah pada status jabatan hakim, manajemen pengelolaan hakim, dan pengawasan kekuasan kehakiman,” terangnya.

RUU tersebut juga akan mengganti rezim sistem satu atap (one roof system), yakni organisasi, administrasi, dan finansial di bawah kekuasaan MA. “Dalam RUU Jabatan Hakim akan ada transformasi atas sistem tersebut. Ada istilahnya shared responsibility atau pembagian tanggung jawab, yakni pembagian peran dan tanggung jawab antar organ negara, khususnya dalam pengelolaan jabatan hakim sebagai konsekuensi pejabat negara,” imbuhnya.

LBH Surabaya menyambut baik kedatangan Komisioner KYRI di kantor yang beralamat di Jalan Kidal No. 6, Kota Surabaya. “Sudah sejak lama Komisi Yudisial bermitra dengan LBH Surabaya, namun belakangan ini memang kurang intens. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memulai kembali bersinergi untuk perbaikan dunia peradilan di negeri ini,” ungkap Kepala Bidang Penanganan Kasus LBH Surabaya, Hosnan, S.H., saat menyambut komisioner perempuan pertama di KYRI beserta beberapa stafnya.

Kepala Bidang Riset, Pengembangan, dan Kerjasama LBH Surabaya, Abdul Fatah, S.H., M.H., mengatakan, secara kelembagaan, LBH Surabaya peduli terhadap RUU Jabatan Hakim. “RUU tersebut sudah mengatur hal-hal yang berkaitan dengan jabatan hakim, di antaranya adalah mengenai status, pengawasan, rekruitmen, mutasi, promosi, hingga pensiun,” katanya. “Namun, ada hal yang juga tak kalah penting untuk dimasukkan dalam RUU itu, yakni peningkatan kapasitas dan perlindungan terhadap hakim,” tambahnya.(*/zal)

Untukmu, Munir!

LBH Surabaya – Tak kurang dari 200 orang menghadiri acara puncak “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan”, Jumat (9/9). Duduk hanya dengan beralaskan tikar, masyarakat dan mahasiswa antusias menyimak berbagai rangkaian acara yang digelar tepat di depan kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya di Jalan Kidal Nomor 6, Kota Surabaya. Berbagai acara yang dimaksud di antaranya adalah pemutaran film, musikalisasi puisi, testimoni, dan orasi.

Masyarakat yang hadir kali ini merupakan kelompok dampingan LBH Surabaya, di antaranya adalah Serikat Pedagang Kali Lima (SPEKAL), Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS), Bina Matraman Putat Jaya Surabaya (BMP), dan Laskar Pembela Bumi Pertiwi (LPBP) Surabaya. Acara kali ini juga dihadiri oleh Mahasiswa Peduli HAM yang berasal dari berbagai universitas di Jawa Timur.

Acara yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB itu juga didukung oleh beberapa organisasi profesi dan masyarakat sipil yang ada di Jawa Timur. Tercatat, ada Ecoton, Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Surabaya, Pusham Universitas Surabaya, Cmars, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Serikat Pengajar Hak Asasi Manusia (Sepaham Indonesia), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, Jaringan Islam Anti-Diskriminasi, Gusdurian, dan Yayasan Kasih Bangsa Surabaya.

Acara kali ini juga dihadiri oleh mantan Direktur LBH Surabaya, Prof. Dr. Muchammad Zaidun, S.H., M.Si. Selain itu, hadir juga alumni LBH Surabaya, Nuzulul, yang saat ini menjadi hakim pada Pengadilan Tinggi Surabaya. “Cak Munir itu semangatnya luar biasa,” kenangnya saat bersama-sama melakukan aktivitas di LBH Surabaya sekitar 26 tahun yang lalu.

Direktur LBH Surabaya, M. Faiq Assiddiqi, S.H., mengatakan, acara malam ini dimaksudkan untuk mengenang aktivis HAM, Munir, yang sangat luar biasa. “Ini adalah acara kita semua. Semoga kita dapat meneladani semangat Cak Munir untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas,” katanya.(*/zal)

Mahasiswa Membaca Munir

LBH Surabaya – Acara “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan” diawali dengan diskusi publik yang diikuti oleh 40 mahasiswa di Jawa Timur, Jumat (9/9). Diskusi yang berlangsung di Aula Kantor LBH Surabaya itu mengambil tema “Mahasiswa Membaca Munir: Refleksi Gerakan Mahasiswa Kekinian”.

Ketua Panitia, Sugianto, S.H., mengatakan, diskusi kali ini merupakan bagian dari rangkaian acara yang akan berakhir pada malam nanti. “Diskusi yang pertama ini kami khususkan pesertanya dari mahasiswa di Jawa Timur,” katanya.

Menurutnya, pelibatan mahasiswa dalam acara itu dipandang sangat penting. “Pergerakan mahasiswa saat ini harus kembali mendekatkan diri pada masyarakat tertindas, seperi halnya yang telah dicontohkan oleh Cak Munir,” ungkap Pengacara Publik LBH Surabaya tersebut.

Panitia mencatat, mahasiswa yang menjadi peserta antara lain dari Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Universitas Hang Tuah Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. “Hadir juga organisasi mahasiswa di Surabaya, seperti HMI, IMM, PMII, GMNI, dan PERMAHI,” tambahnya.

Sebelum memulai diskusi, mahasiswa secara bersama-sama menyaksikan film yang mengkisahkan tentang perjalanan hidup Munir. Hadir sebagai moderator pada acara tersebut adalah Asisten Pengacara Publik LBH Surabaya, Muhammad Busyrol Fuad, S.H., S.H.I.,

Salah satu peserta, Reza, mengungkapkan, mahasiswa sangat terjembatani dengan acara seperti ini. “Diskusi ini juga akan menambah daya juang kita dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat yang tertindas. Kita juga akan mendapatkan gambaran bagaimana semangat Cak Munir dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas,” ungkap mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga tersebut.

Sementara itu, menurut aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DPD Jawa Timur, Alsa, dalam pergerakan mahasiswa saat ini, mengidentifikasi lawan adalah salah satu hal yang sangat penting. “Sistem dan struktur yang kapitalis perlu untuk dilawan,” tuturnya.(*/zal)