Mahasiswa S2 Narotama Kunjungi LBH Surabaya

LBH Surabaya – Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Kantor Hukum, 18 mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Narotama Surabaya mengunjungi LBH Surabaya, Jumat (29/4). Turut hadir pula dosen pembimbing mahasiswa, yakni Dr. Lanny Ramli, S.H., M.Hum.

“Terima kasih kami sampaikan kepada LBH Surabaya yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengadakan kunjungan ke sini,” ungkapnya. “Maksud dan tujuan kunjungan ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui manajemen kantor hukum secara langsung sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa,” tambahnya.

Kunjungan mahasiswa kali ini disambut secara langsung oleh Direktur LBH Surabaya, M. Faiq Assiddiqi, S.H. “Kami ucapkan selamat datang di kantor kami. Semoga dalam kunjungan kali ini, di LBH Surabaya, dapat memberikan pengetahuan secara langsung tentang manajemen kantor hukum,” sambutnya.

Setelah mendapatkan sambutan dari Direktur LBH Surabaya, para mahasiswa mendapatkan paparan mengenai sistem manajemen aktivitas kelembagaan. Untuk mengawali, Staf Bidang Riset, Pengembangan, dan Kerjasama LBH Surabaya, Moch. Choirul Rizal, S.H.I., memaparkan kondisi internal dan aktivitas kelembagaan di LBH Surabaya.

Berikutnya, mahasiswa mendapatkan pemaparan terkait Manajemen Penanganan Kasus di LBH Surabaya yang disampaikan oleh Kepala Bidang Penanganan Kasus LBH Surabaya, Hosnan, S.H. “Penanganan kasus di LBH Surabaya kami lakukan dengan menggunakan pendekatan bantuan hukum struktural. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengubah struktur yang timpang menuju ke arah struktur yang lebih adil,” tuturnya.(*/zal)

LBH Surabaya: Otak Pembunuh Salim Kancil Musti Dituntut Hukuman Maksimal

KBR, Jakarta – Lembaga Bantuan Hukum LBH Surabaya Jawa Timur tidak mempersoalkan vonis rendah yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri kepada dua orang remaja pelaku pembunuh Salim Kancil.

Koordinator Tim Pemantau Peradilan Salim Kancil dari LBH Surabaya, Abdul Wachid Habibullah mengatakan yang harus dipastikan adalah agar jaksa mengajukan tuntutan hukuman berat kepada terdakwa orang dewasa pembunuh Salim Kancil. Terutama Kepala Desa Selok Awar-awar Haryono serta orang kepercayaannya Mat Dasir.

“Kita tahu jelas, dalam persidangan, Kepala Desa Haryono ini yang menjadi aktor intelektual, dan terbukti. Dia terus-terusan menyangkal. Ini yang harus diperhatikan oleh JPU dan hakim, untuk menuntut yang semaksimal mungkin untuk Haryono. Selain Haryono, peran paling besar pada Mat Dasir. Dia tangan kanan Haryono. Perannya sangat kunci, karena pengeksekusi itu dipimpin Dasir. Haryono juga mengarahkan kesalahan pada Ahmad Dasir,” kata Abdul Wachid kepada KBR, Jumat (29/4/2016).

Koordinator Tim Pemantau Peradilan Salim Kancil dari LBH Surabaya, Abdul Wachid Habibullah mengatakan dua remaja itu hanya ikut-ikutan terlibat pembunuhan.

Kamis (28/4/2016) kemarin, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya Jawa Timur, menghukum dua remaja dengan hukuman 3,5 tahun penjara karena terbukti ikut membunuh aktivis antitambang asal Lumajang Jawa Timur tersebut. Hukuman itu hanya setengah dari tuntutan jaksa yang menuntut tujuh tahun penjara.

Hingga saat ini Jaksa Penuntut Umum belum mengajukan tuntutan terhadap para orang dewasa terdakwa pembunuh Salim Kancil.

Menurut Koordinator Tim Pemantau Peradilan Salim Kancil dari LBH Surabaya, Abdul Wachid tuntutan jaksa sedianya disampaikan Kamis kemarin namun ditunda dua pekan. Putusan PN Surabaya diperkirakan keluar sekitar 1,5 bulan lagi.

“Tuntutan terhadap mereka yang melakukan pembunuhan berencana dan penganiayaan itu sudah terbukti di persidangan. Itu harus dituntut seberat-beratnya. Agar, putusan hakim nanti tidak jauh-jauh dari tuntutan hukum. Kalau SOP jaksa itu kan, kalau hukuman kurang atau di bawah 3/4 tuntutan, jaksa bisa mengajukan banding. Kalau tuntutan rendah, vonis kan bisa lebih rendah lagi. Itu yang harus kita kawal,” kata Abdul Wachid.

Salim Kancil, petani asal Lumajang Jawa Timur, dibunuh secara keji dan terencana pada 26 September tahun lalu. Salim Kancil dibunuh karena menolak kehadiran tambang pasir besi di desanya.(*)

Sumber:

Portal KBR, Jumat, 29 April 2016 16.20 WIB

http://portalkbr.com/04-2016/lbh_surabaya__otak_pembunuh_salim_kancil_musti_dituntut_hukuman_maksimal/80778.html

LBH Surabaya Terakreditasi!

LBH Surabaya – Kabar gembira bagi seluruh masyarakat di Jawa Timur. Di awal 2016, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya telah terverifikasi dan terakreditasi oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagai Organisasi Bantuan Hukum (OBH) yang dapat memberikan layanan bantuan hukum sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum (UU Bantuan Hukum).

Pelaksanaan bantuan hukum oleh LBH Surabaya menurut skema UU Bantuan Hukum didasarkan pada “Perjanjian tentang Pelaksanaan Bantuan Hukum bagi Orang Miskin atau Kelompok Orang Miskin Tahun Anggaran 2016” antara Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur dengan Direktur LBH Surabaya. Perjanjian dengan Nomor: W.15.HN.03.03-349 itu ditandatangani tertanggal 30 Maret 2016.

Berdasarkan perjanjian itulah, LBH Surabaya dapat memberikan bantuan hukum secara litigasi dalam perkara pidana, perdata, dan/atau tata usaha negara. Selain itu, lembaga yang berkantor di Jalan Kidal Nomor 6, Surabaya itu dapat memberikan bantuan hukum nonlitigasi, di antaranya penyuluhan hukum, pemberdayaan masyarakat, dan drafting dokumen hukum.

Atas keberhasilan memperoleh akreditasi, Direktur LBH Surabaya, M. Faiq Assiddiqi, S.H., mengharapkan, agar lembaga yang dipimpinnya itu dapat memberikan pelayanan hukum kepada orang miskin atau kelompok miskin dengan sebaik-baiknya. “Hak atas akses keadilan semoga juga dapat diwujudkan melalui pemenuhan hak atas bantuan hukum ini,” tambahnya.(*/zal)