Peranan Media Massa dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak

0
244

Yaritza Mutiaraningtyas, S.H.

Perkembangan media massa di Indonesia semakin maju di Era Globalisasi, di ketahui media massa terdiri dari beberapa katagori antara lain media cetak dan elektronik. Dalam perkembangannya media masa tidak hanya berfungsi memberikan informasi kepada khalayak tetapi juga pendidikan, hiburan serta control sosial. Saat ini, media elektroniklah yang lagi di gandrungi oleh masyarakat Indonesia tetapi banyak orang tidak mengetahui bahwa berita-berita di media elektronik dan cetak yang memprihatinkan di karenakan banyak pemberitaan media massa yang masih menerapkan nilai-nilai bias gender dalam masyarakat.

Sebagian media massa lebih banyak membuat kata-kata sensasional dari pada esensi permasalahannya, kata-kata sensasional yang biasa dipakai judul berita  bisa menimbulkan efek kekerasan yang mendalam. Contoh, “Suami Membunuh Istri Dengan Parang”, “Menolak Diajak Begituan, Suami Aniaya Istri Pakai Kapak”, “Edan! Ayah Cabuli Anak Kandung Setiap Hari”, “Dianiaya ibu Tiri,  Gadis Cilik Telantar di Jalanan” . Ada juga yang mendeskripsikan detail peristiwa yang dialami anak dan perempuan terkait kasus kekerasan, pencabulan dan pemerkosaan. Contoh, “Setibanya di kamar, tiba-tiba kakek Muchtar mendorong bahu korban hingga terjatuh di atas kasur. Didorong nafsu yang memuncak, sang kakek lantas meraba seluruh tubuh dan menciumin korban.” Kecenderungan memberitakan secara detail sebuah peristiwa berdampak negatif bagi anak-anak, perempuan, dan khalayak umum yang membaca, mendengar dan melihat. Dalam kasus perkosaan, deskripsi peristiwa yang terlalu mendetail dapat menimbulkan trauma bagi anak dan perempuan termasuk korban yang mengalami kekerasan dan pemerkosaan.

Padahal di Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menerangkan “Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah” isi pasal tersebut menerangkan bahwa apa yang diberitakan oleh media massa harus menghormati rasa kesusilaan. Pers nasional dalam menyiarkan informasi, tidak menghakimi atau membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus kasus yang masih dalam proses peradilan, serta dapat mengakomodasikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam pemberitaan tersebut.

Sehingga diharapkan media massa saat ini bisa mengkontrol pemberitaan dan memperbanyak pemberitaan yang positif contohnya terkait pemberdayaan perempuan dan anak dengan mengambil tema pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah menjadi barang berharga dan bernilai ekonomi tinggi sehingga bisa membuka usaha bank sampah. Pendidikan untuk perempuan rentan, pendidikan untuk anak-anak disabilitas, pengamen dan pemulung. Berita tentang pemberdayaan perempuan dan anak sangat diperlukan khususnya di media massa, karena media menjadi faktor yang berperan dalam perubahan sosial.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY